Home / Investasi dan MitigasiBencana

Berita & Artikel - Artikel

Investasi dan MitigasiBencana

Penulis :

Rudy Rinaldy

Profesi :

Kepala Dinas Komunikasi & Informatika Kota Padang

Pada tahun 2009 yang lalu, Kota Padang pernah mengalami musibah gempa bumi yang menewaskan 383 orang. Berbagai bangunan, infra struktur dan fasilitas umum lainnya rusak parah. Musibah tersebut menimbulkan luka yang mendalam bagi semua orang yang mengalaminya. Butuh waktu lebih dari 5 tahun kemudian Kota Padang mulai bangkit dengan berbagai program rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah dilaksanakan.

Bertahun-tahun pasca musibah tersebut hampir tidak ada investasi sektor swasta skala besar yang masuk ke Kota Padang. Para penanam modal dan investor masih trauma (jika berlebihan dikatakan takut) untuk menanamkan uangnya di Kota Padang. Pertimbangan ekonomi dan prakiraan return of investmentyang sulit diprediksi, ditambah dengan mitigasi bencana yang belumcleardan belum teruji, menyebabkan iklim investasi di Kota Padang menjadi stagnan.

Pada masa itu pertumbuhan ekonomi hanya didominasi oleh belanja publik yang berasal dari dana Pemerintah, baik yang bersumber dari dana APBD Kota Padang, APBD Provinsi Sumatera Barat dan APBN. Semua dana yang ada difokuskan untuk memperbaiki berbagai fasilitas kota dan traumatic healinguntuk membangkitkan kembali kepercayaan diri warga kota pasca musibah yang dialami tersebut.

Perlahan namun pasti Kota Padang bangkit. Berbagai program mitigasi bencana terus dirancangdandigulirkan sebagai persiapan mengantisipasi bencana sejenis yang diramalkan oleh banyak para ahli berkemungkinan terjadi lagi. Trustpara investor secara berangsur-angsurpulih dan pada hari ini begitu banyak investasi yang telah dan yang akan ditanamkandi Kota Padang.Berdasarkan data sampai dengan akhir tahun 2017 yang lalu, total investasi dalam negeri yang telah masuk ke Kota Padang berjumlah Rp. 673 Milyar, yang menyerap lebih dari 11.000 orang tenaga kerja lokal dan 79 orang tenaga kerja asing. Capaian cooljuga ditunjukkan oleh realisasi investasi asing (Penanaman Modal Asing) yang mencapai sekitar $ 2,4 juta, yang menyerap lebih dari 7.000 orang tenaga kerja lokal dan 120 orang tenaga kerja asing.

Namun prestasi impresif tersebut sedikit terusik manakala terjadi musibah sejenis di Lombok dan Palu baru-baru ini, yang suatu ketika dulu pernah dialami oleh Kota Padang walaupun tidak separah yang terjadi di Palu. Bencana tersebut kembali mengingatkan kita bahwa ada korelasi yang kuat antara program mitigasi bencana yang smartdengan gairah investasi.

Berbagai program mitigasi bencana yang sudah digulirkan oleh Pemerintah Kota Padang banyak dinilai oleh para pakar sudah sangat memadaidan sekaligus mampumempertahankan iklim investasi yang kondusif. Trustpara investor tersebut menyebabkan berbagai trendinvestasi di Kota Padang terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun demikian masih ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk menyempurnakan program mitigasi tersebut.

Pertama, penyiapan emergency landing. Dari berbagai simulasi bencana gempa bumi dan gelombang tsunami yang telah dilakukan oleh para ahli,jika bencana tersebut terjadi maka dua fasilitas fital yang kita miliki yaitu Pelabuhan Samudera Teluk Bayur dan Bandarudara International Minangkabau akan hancur. Jika kedua fasilitas tersebut tidak dapat berfungsi maka distribusi logistik dan bantuan medis sesaat pasca bencana (pada fase emergency respons) tidak dapat segera dilakukan. Oleh karena itu emergency landingsangat diperlukan untuk dipersiapkan pada kawasan yang bebas dari landaan tsunami.
Kedua, pemetaan zona likuifaksi melalui penelitian micro zonasidalam wilayah kota. Sekedar perbandingan saja, Kota Wellington di New Zealand telah melakukan lebih dari 6.000 titik boringuntuk mendeteksi zona mana saja yang termasuk rawan likuifaksi. Jika kita ambil 10% saja, maka di Kota Padang paling tidakdiperlukan sekitar 600 titik boringuntuk menentukan zona likuifaksi tersebut. Memang mahal, tetapi hal sangat diperlukan jika dibandingkan dengan kerugian yang akan ditimbulkannyasuatu saat nanti.Likuifaksi dahsyat yang terjadi di Palu memberikan gambaran kepada kita betapa bahaya likuifaksi tersebut sangat mengerikan.

Ketiga, pembangunan shelterdan penentuan bangunan eksisting sebagai shelter. Pada hari ini diperkirakan lebih dari 60% warga kota bertempat tinggal dan beraktifitas dikawasan red zoneyang merupakan kawasan rawan bencana gelombang tsunami. Sebagian masyarakat yang bermukim diwilayah ini belum akan tertampung oleh shelter-shelteryang tersedia saat ini. Jika hal ini tidak segera menjadi concernkita, maka kawasan red zoneakan menjadi kuburan massal apabila bencana tersebut benar-benar terjadi.

Keempat, pemanfaatan teknologi Earthquake Early Warning System(EEWS). Banyak yang masih ragu dengan teknologi ini, walaupun di China sudah beberapa kali terbukti sangat bermanfaat untuk mengurangi korban meninggal pada saat gempa bumi terjadi. Golden timeyang hanya sekitar 17 detik menjelang gempa bumi terjadi, akan menimbulkan rasa securebagi seluruh warga. Evakuasi selama golden timetersebut akan mampu menyelamatkan bahkan ribuan nyawa yang terdampak gempa. Tidak ada salahnya mengkaji ulang pemanfaatan teknologi tersebut untuk memberikan rasa percaya diri yang lebih baik bagi seluruh warga kota.Paling tidak itulahempat hal tersebut yang perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari penyempurnaan program mitigasi bencana yang berkorelasi sangat erat dengan dinamika investasi lokal dan asingdi Kota Padang. Mitigasi yang cermat dan smart, akan mampu menciptakan trustbagi seluruh investor untuk tetap menanamkan investasinya di Kota Padang. Jauh dari lubuk hati yang paling dalam, kita tetap harus berdoa memohon kepada Allah agar kita terhindar dari bencana yang mengerikan tersebut. Tetapi akanjauh lebih baik jika kita siap menghadapi bencana yang belum tentu datang, dari pada kita lengah tetapi ternyata bencana tersebut datangtiba-tibamenghantam kita.

 

    Rudy Rinaldy