| 8 Kebijakan Rehab Rekon Pemko Padang: |
|
Selasa Ini, Kesepakatan PembangunanPasar
Inpres II, III, IV Padang Diteken di KOMNAS HAM Jakarta Padang,
Kalau tidak ada aral melintang, Selasa ini (8/11), kesepakatan pembangunan
Pasar Inpres II, III dan IV Kota
Padang akan ditandatangani antara Pemko Padang, Persatuan Lembaga
Bantuan Hukum dan HAM Indonesia
Sumbar (PBHI), perwakilan pedagang, di Kantor Komisi Nasional Hak Azazi
Manusia (KOMNAS HAM) Jakarta. Juga akan dihadiri pejabat Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku yang ‘’punya’’ anggaran, dan
anggota DPR- RI
asal pemilihan Sumbar. Walikota Padang DR. H. Fauzi Bahar, M. Si, Wakil Walikota Padang H. Mahyeldi
Ansharullah, SP, anggota legislative, dan Muspida Kota Padang serta
pimpinan kota lainnya wajar memperlihatkan rasa gembira dan puas, karena
rencana yang disusun sejak dua tahun lalu dapat direalisasikan, ujar Kabid
Humas Pemko Padang Richardi Akbar, S. Sos, kemarin (7/11).
Dengan demikian dana bantuan pemerintah pusat melalui anggaran Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) tahap pertama sebesar Rp64,5 Miliar dapat
dilaksanakan November 2011
ini dengan system multi years, dan diharapkan untuk tahap- tahap berikutnya
berkisar Rp136 Miliar lagi dapat pula disetujui oleh pemerintah pusat pada
tahun anggaran 2012 mendatang.
Pembangunan kembali Pasar Inpres II, III dan IV yang sudah berusia 30 tahun
lebih itu,
serta Pasar Inpres I (sudah rampung 100 persen) merupakan salah satu dari
delapan pokok- pokok kebijakan rehabiltasi dan rekosntruksi Pemko Padang pasca
gempa 30 September 2009
lalu, yang telah ditetapkan Pemko Padang sejak dua tahun lalu.
Delapan kebijakan Rekon tersebut antara lain, memindahkan pusat
pemerintahan Pemko Padang ke kawasan Air Pacah Kecamatan Koto Tangah yang sudah
disetujui presiden melalui PP, merevitalisasi Pasar Raya Padang dan Pasar
Satelit, Mereorganisasi jaringan transportasi kota, menata kawasan pusat kota
lama, seperti Pondok Muaro dan Pasa Gadang.
Selain itu, memulihkan sarana pendidikan dan kesehatan, memulihkan rumah dan
pemukiman masyarakat yang hancur akibat gempa, memulihkan mental masyarakat
akibat gempa, merevisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW dan Rencana Pembangunan
Jangka Panjang
Daerah (RPJMD).
Alasan pemindahan pusat pemerintahan ke Air Pacah Koto Tangah yaitu,
berdasarkan analisa ilmiah peluang terjadinya gempa dengan kekuatan besar dan
tsunami relative tinggi, mengurangi konsentrasi massa dalam jangka waktu
lama di kawasan yang rentan terhadap bencana, mendorong optimalisasi
pemanfaatan ruang kota dan pertumbuhan kawasan.
Kata Kabid Humas Richardi Akbar, kebijakan merevitalisasi pasar raya dan
pasar satelit telah diplanning sejak dua tahun lalu, antara lain
mengindentifikasi pedagang yang berusaha di pasar raya (Pasar Inpres I, II, III
dan IV), mengikutkan mereka dalam perencanaan pembangunan kembali dan mendapat
jaminan penempatan kembali lokasi yang dibangun baru.
Mengupayakan pembiayaan pembangunan baru pasar raya dengan sumber pendanaan
dari pedagang, pemerintah dan sumber pendanaan masyarakat lainnya, sehingga
harga ruang menjadi terjangkau bagi kelanjutan bisnis pedagang yang ada.
Menyiapkan format untuk mensinergiskan kegiatan perdagangan antara pelaku pasar
yang besar, menengah dan kecil. Merehabilitasi dan mengembangkan pasar raya
menjadi pasar rakyat yang modern. Membangun dan mengembangkan pasar- pasar
satelit yang dilengkapi dengan terminal angkutan dalam kota (Siteba, Belimbing,
Gaung, Bandar Buat, Ulak Karang, Simpang Haru, Indarung). Dan antar kota (Lubuk
Begalung, dan Lubuk Buaya) untuk mengurangi kepadatan pasar raya dan
menumbuhkan pusat ekonomi baru, serta memfasilitasi pedagang pasar raya yang
ingin merelokasi usahanya ke pasar satelit terdekat dengan tempat tinggalnya.
Jadi tergambar dengan jelas bahwa keseriusan Pemko Padang membenahi pasar yang
lebih refresentatif sudah sejak lama (dua tahun lalu). Menurut data terakhir
ada sekitar 2.524 pedagang pasar raya Padang, baik yang berada di Inpres I, II,
III, IV maupun pertokoan Pasar
Baru, ujar Kabid Humas Richard.
(rel). |