Aktifitas Perekonomian di Kota Padang

 

Ciri khas struktur ekonomi perkotaan adalah aktivitas perekonomiannya sebagian besar dihasilkan dari kelompok sektor sekunder dan kelompok tersier. Kelompok sektor sekunder mencakup sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih serta sektor bangunan. Sementara kelompok sektor tersier meliputi sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor lembaga keuangan, sewa bangunan dan jasa perusahaan serta sektor jasa-jasa.  Dalam perekonomian Kota Padang, kelompok sektor tersier masih merupakan kelompok sektor yang dominan, baik nilai tambah maupun kontribusinya. Untuk tahun 2008 sumbangan kelompok sektor tersier mencapai 70,52 persen. Nilai tambahnya mencapai sekitar 14.192,15 milyar rupiah.

Kemudian diikuti oleh kelompok sektor sekunder dengan sumbanganya sebesar 21,96 persen pada tahun 2008, angka ini sedikit menurun dibanding tahun 2007 sebesar 22,19 persen. Nilai tambah yang dibentuk oleh kelompok sektor sekunder ini adalah sebesar 3.854,44 milyar rupiah di tahun 2007, naik menjadi 4.419,45 milyar rupiah pada tahun 2008 . Sedangkan sumbangan kelompok sektor primer yang mencakup sektor pertanian , sektor pertambangan dan penggalian terhadap pembentukan nilai tambah Produk Domestik Regional Bruto ( PDRB ) Kota Padang hanya sebesar  7,52 persen.

Sektor perekonomian yang menjadi kontributor utama, adalah  sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri dan pengolahan, serta sektor jasa-jasa, perdagangan, hotel dan restoran. PDRB Kota Padang sampai tahun 2008, masih didominasi oleh empat sektor utama sebagai kontributor terbesar yaitu sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 24,10 % sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 20,91 %, sektor industri dan pengolahan 15,27 %, serta sektor jasa-jasa sebesar 16,89 %. Kontribusi ke empat sektor dimaksud melebihi 75 % dari total PDRB.

Sementara kontribusi kelompok sektor primer (pertanian dan pertambangan/bahan galian) relatif kecil yakni hanya sebesar 7,52 % dan cendrung terus menurun. Hal tersebut sejalan dengan terjadinya proses transformasi struktur ekonomi yang membentuk perekonomian  perkotaan. Beberapa perubahan komponen utama struktur ekonomi  mencakup pergeseran secara perlahan-lahan aktivitas pertanian ke arah sektor non pertanian,  dari sektor industri ke sektor jasa. Hal itu  ditandai dengan adanya perubahan persentase sumbangan berbagai sektor dalam pembangunan ekonomi. Secara umum transformasi struktural ditandai oleh peralihan dan pergeseran kegiatan perekonomian dari sektor poduksi primer (pertanian) menuju sektor produksi sekunder (industri manufaktur, konstruksi) dan sektor tersier.

Di sisi lain, beberapa sektor    yang merupakan sektor potensial seperti sektor perikanan dan kelautan serta pariwisata, tetapi belum mampu memberikan peran yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan oleh rendahnya kualitas sumberdaya manusia, ketertinggalan penerapan teknologi dan meningkatnya kompetisi dalam pengelolaan. Selain itu juga dampak kenaikan harga BBM, masalah pengaturan perizinan, kerusakan ekosistem, tingginya angka pencurian ikan (illegal fishing). Kesemuanya itu secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, khususnya dalam menghasilkan output (produk) dan penyerapan tenaga kerja.

 
Advertisement
counter