HARUSKAH KITA TERPECAH?

Oleh : H. Mahyeldi Ansharullah, S.P.

 

Image
MAHYELDI
Bersatu itu indah. Dengan bersatu akan lahir  rasa aman, tentram, dan nyaman dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pada tahun 1945, negara ini berdiri karena bersatunya seluruh suku bangsa melawan penjajah. Namun, negara ini hampir terpecah-belah ketika sebagian masyarakatnya lebih menonjolkan perbedaan daripada kebersamaan, padahal perbedaan itu adalah fitrah dan rahmat Allah SWT untuk manusia.

Perbedaan tidak akan pernah hilang antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Seperti kata pepatah, ’rambuik samo hitam, isi kapalo balain-lain’. Dengan perbedaan ini ada manusia yang berhasil dan ada yang tidak, ada yang kaya dan ada yang miskin. Dengan perbedaan ini hidup menjadi lebih dinamis dan tidak monoton.

Pertanyaannya, mengapa perbedaan bisa membuat perpecahan? Karena tanpa disadari manusia lebih menonjolkan ego pribadi dalam perbedaan tersebut. Ego pribadi adalah hawa nafsu yang selalu  menggiring manusia untuk tidak pernah puas, selalu ingin menang sendiri, selalu ingin disanjung, dan lain-lain dalam hidupnya.

Di keluarga, ketika suami berbicara dan isteri mendengarkan atau sebaliknya, rumah tangga menjadi harmonis penuh cinta kasih, rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah akan terwujud. Tetapi ketika ego pribadi yang ditonjolkan, tak ada yang mau mengalah, masing-masing menganggap dirinya yang paling hebat dan paling benar. Cepat atau lambat perceraian pasti akan terjadi.  

Dalam kehidupan bermasyarakat, menjaga kebersihan lingkungan adalah kewajiban bersama. Namun ketika satu orang saja anggota masyarakat tidak peduli dan menonjolkan ego pribadi dengan  membuang sampah ke dalam saluran air, akan mengakibatkan saluran  air tersebut menjadi tersumbat. Jika tersumbat, lingkungan menjadi berbau busuk dan bibit penyakit menular pun akan bersarang. Bila hujan lebat datang, air pasti akan menggenangi dan merendam lingkungan pemukiman dan fasiltas publik yang ada di sekitarnya, termasuk rumahnya sendiri.

Dalam pemerintahan pun, ketika program pengentasan kemiskinan dilakukan secara fokus, terintegasi, dan bersinergi antara masing-masing Satuan Kerja dalam pemerintahan tersebut (SKPD), maka angka kemiskinan akan bisa dikurangi setiap tahun. Keberadaan pemerintahan akan dirasakan oleh masyarakat. Tetapi jika masing-masing SKPD tersebut tidak fokus, berjalan sendiri-sendiri, dan menonjolkan ego pribadi, maka sampai kapan pun permasalahan kemiskinan tidak akan bisa dientaskan oleh pemerintah. Program pengentasan kemiskinan hanya berhasil secara teori, tapi dalam praktiknya tidak.

Pada tataran yang wajar, ego pribadi akan muncul dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Keduanya merupakan faktor positif dalam meningkatkan kualitas pribadi setiap individu menjadi lebih tinggi. Namun, kalau keduanya berlebihan, akan muncul kebanggaan (pride) yang sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara kebanggaan dan kesombongan ini sangatlah tipis sekali. Ketika berubah menjadi kesombongan, akan melahirkan nafsu dunia yang dapat menyesatkan sesuai dengan firman Allah (QS. Yusuf, 12:53), “...sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah,...“

Dalam suatu riwayat Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa mengendalikan hawa nafsu  adalah jihad yang lebih besar dari berperang melawan musuh. Mengenai jihad ini dalam  Alquran (Al-Ankabut, 29:69) Allah SWT mengatakan, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah beserta orang-orang yang baik.“

Oleh karena itu, haruskah kita terpecah-belah karena perbedaan yang berakar dari ego pribadi? Kita harus bersatu untuk kehidupan yang lebih baik mewujudkan kesejahteraan rakyat. Kita harus bersatu demi kelanjutan bangsa dan negara ini. Dengan bersatu tidak ada yang tidak bisa. Dengan bersatu, yang sulit akan jadi mudah. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Kalau ada perbedaan, bermusyawarahlah dan kembalikan kepada aturan yang mengaturnya. Namun kalau tidak juga mencapai titik temu, serahkan kepada pihak yang berwenang untuk memutuskan. Pihak yang berwenang ini dalam Al Quran (An-Nisa, 4:59) adalah pemerintah (ulil amri).

Sehubungan dengan penetapan 1 Syawal 1430 H yang tinggal beberapa hari lagi. Biasanya setiap tahun selalu saja ada perbedaan antara masing-masing ormas Islam dalam menetapkan tanggal 1 Syawal tersebut. Masing-masing ormas pasti mengajak anggotanya untuk mengikuti ketetapannya, walaupun ketetapan tersebut berbeda dengan ketetapan pemerintah. Kondisi ini membuat masyarakat menjadi bingung dan terpecah-pecah.  Ketetapan mana yang harus diikuti? Haruskah kita terpecah-pecah hanya karena masalah ini?

Marilah kita mengikuti ketetapan pemerintah (Departemen Agama). Apalagi, penetapan ini tidak dilakukan sendiri oleh pemerintah, tetapi sudah dengan musyawarah dengan seluruh ormas Islam yang ada di Indonesia melalui sidang Istbat. Apa gunanya Negara ini didirikan kalau rakyatnya tidak mengikuti pemerintahnya. Pemerintah adalah pemutus perbedaan sesuai dengan kaidah fiqhiyah,  “Hulumul hakim yarfa’a al khilaf”. Artinya, keputusan hakim/pemerintah menghilangkan perbedaan.. Ketetapan pemerintah selama tidak melanggar syariah adalah sah menurut hukum Islam dan hukum negara.

Dalam Al-Quran (An-Nisa, 4:59) di atas, Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnah), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Oleh karena itu, sekali lagi mari kita merayakan kemenangan setelah berpuasa pada bulan Ramadhan 1430 H ini secara bersama-sama, kompak, dan bersatu dengan menekan ego (kesombongan) yang ada dalam diri kita. Selamat Idul Fitri 1430 H. Mohon maaf lahir dan bathin. Mudah-mudahan kita berhasil menjadi orang-orang yang bertaqwa. Amin

 (Penulis adalah Wakil Walikota Padang)

 
Advertisement
counter