MEMBANGUN KEBERSAMAAN MELALUI RAMADHAN

Oleh: H. Mahyeldi Ansharullah, S.P.

 

MAHYELDI ANSHARULLAHManusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Allah SWT menciptakan manusia beraneka ragam dan berbeda-beda tingkat sosialnya. Ada yang kuat ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin dan seterusnya. Demikian pula Allah SWT ciptakan manusia dengan keahlian dan kepandaian yang berbeda-beda pula. Semua itu adalah dalam rangka saling memberi dan saling mengambil manfaat. Orang kaya tidak dapat hidup tanpa orang miskin, dan orang miskin pun tidak dapat hidup tanpa orang kaya.

Apa itu kebersamaan? Cara yang paling mudah menjelaskan arti kebersamaan adalah melalui pepatah ‘Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing, Saciok Bak Ayam, Sadanciang Bak Basi’. Dengan kebersamaan, pekerjaan berat akan menjadi ringan.

Tanpa kebersamaan kesuksesan tidak akan tercapai seperti pepatah asing berikut: “No bird soars too high if he soars with his own wings (Tidak ada burung terbang terlalu tinggi bila ia terbang dengan sayap-sayapnya). Di Negara kita, keberhasilan The Founding Fathers memproklamirkan kemerdekaan Indonesia adalah karena semangat kebersamaan. Bagi mereka, walaupun Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa tetapi tetap satu (Bhineka Tunggal Ika).  ‘Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh’.

Terjadinya konflik di berbagai daerah di Indonesia pasca reformasi beberapa waktu lalu disebabkan karena semangat kebersamaan The Founding Fathers tersebut telah dihilangkan oleh berbagai kepentingan politik sesaat. Akibatnya, Aceh, Poso, dan Maluku bertumpah darah. Makanya wajar jika Presiden SBY menjadikan kebersamaan sebagai motto politiknya untuk membangun kembali Indonesia yang telah ‘tercerai-berai’. ‘Bersama Kita Bisa’, kata SBY. Menurutnya, tendensi untuk saling menjatuhkan atau saling hujat satu sama lain tidak perlu bagi bangsa ini. Hanya dengan kebersamaan, pembangunan bangsa untuk kesejahteraan rakyat dapat berjalan. Kebersamaan itu indah dan tidak sulit untuk mewujudkannya.

Bulan Ramadhan 1430 H ini adalah moment yang tepat untuk mewujudkan kebersamaan. Hal ini mulai terlihat sebelum memasuki Ramadhan dimana sebagian besar kita menjadikan moment ini untuk saling minta maaf satu sama lain agar dapat menjalankan puasa dengan tenang dan berhasil menjadi manusia yang bertaqwa. Apabila moment ini betul-betul dimanfaatkan untuk saling memaafkan dengan ikhlas dan semata-mata mengharapkan ridho Allah SWT, bukan hanya sekedar rutinitas belaka, maka semangat kebersamaan akan terwujud. Semuanya ingin puasanya diterima dan dosanya yang telah berlalu diampuni oleh Allah, sehingga apapun hal-hal yang membatalkan puasa dan mengurangi ibadah puasa akan sama-sama dijaga satu sama lain. Kepedulian satu sama lain ini adalah salah satu wujud semangat kebersamaan.

Selain itu, dalam bulan Ramadhan hampir seluruh umat muslim melaksanakan shalat berjemaah ke mesjid khususnya Shubuh, Isya dan Tarawih. Shalat berjemaah adalah simbol kebersamaan. Dengan berjemaah kita akan saling bertemu muka dengan tetangga yang mungkin selama ini tidak terjadi di luar Ramadhan karena kesibukan masing-masing. Dengan terus bertemu, akan terjadi interaksi satu sama lain, baik melalui senyum, tegur sapa, atau ‘ngobrol’. Kondisi ini akan semakin meningkatkan hubungan silaturrahmi satu sama lain. Ini juga wujud kebersamaan.

Ketika shalat berjemaah dilaksanakan dan imam membaca ayat Al-Quran dan doa-doa yang berakhiran ‘na’ dalam Bahasa Arab yang berarti kami dalam Bahasa Indonesia, ini juga menandakan adanya kebersamaan dalam shalat. Kebersamaan lainnya, ketika kita mengakhiri shalat dengan membaca salam yang artinya selamat dan menoleh ke kanan dan ke kiri, menunjukkan bahwa kita mendoakan orang yang ada di samping kanan dan kiri kita agar diberi keselamatan oleh Allah SWT. Setelah selesai shalat pun biasanya kita berjabat tangan satu sama lain. Berjabat tangan ini adalah ungkapan untuk saling memaafkan dan memperkuat hubungan silaturrahmi  satu sama lain. 

Selain shalat berjemaah, puasa yang kita laksanakan selama bulan Ramadhan dengan menahan haus dan lapar akan menumbuhkan kepedulian kita terhadap orang-orang yang susah makan/kelaparan setiap hari. Kepedulian terhadap orang miskin ini juga adalah kebersamaan.

Selanjutnya, pada akhir Ramadhan, kita diwajibkan untuk membayar zakat. Zakat adalah solusi konkrit kebersamaan. Hal ini terlihat dari hikmah dan manfaat zakat berikut ini, yaitu pertama, merupakan perwujudan keimanan kepada Allah, mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlaq mulia dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, menghilangkan sikap kikir, rakus dan materialistis, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus  membersihkan dan mengembangkan harta yang dimiliki (QS. Attaubah: 103, Ar-Rum: 39, Ibrahim: 7).

Kedua, merupakan hak mustahik, karena itu zakat berfungsi untuk menolong, membantu dan membina mereka kearah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak, dapat beribadah, terhindar dari kekufuran, menghilangkan sifat iri, dengki (QS. An-Nisa’: 37).

Ketiga, dari sudut sosiologis, zakat merupakan pilar amal bersama (jama’i) antara orang-orang yang berkecukupan dengan para mujtahid yang seluruh hidupnya digunakan untuk berjihad di jalan Allah, sehingga tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk berusaha untuk nafkah diri dan keluarganya. (QS. Al-Baqarah: 273).

Keempat, dari sudut kepentingan pembangunan, zakat merupakan salah satu sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang harus dimiliki umat Islam, seperti sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, sosial maupun ekonomi, sekaligus sebagai sarana pengembangan kualitas Sumber Daya Insani. Dari sisi kesejahteraan umat, zakat merupakan salah satu instrumen pemeratan pendapatan, apabila zakat dikelola dengan baik  memungkinkan membangun pertumbuhan ekonomi, sekaligus pemerataan pendapatan (QS. Al-Hasyr: 7).

Mengenai zakat ini, sebagai warga kota kita perlu bangga, karena sejak   tahun 2004, Pemko Padang telah intensif melakukan pengumpulan zakat dari PNS. Setiap tahun selalu terjadi peningkatan dana zakat yang terkumpul. Untuk tahun 2009 saja (sampai September), dana zakat yang terkumpul telah mencapai 7,5 milyar rupiah lebih. Dana ini telah dimanfaatkan untuk bantuan berobat gratis di Puskesmas, beasiswa bagi keluarga miskin, dan lain-lain. Ditargetkan hingga Desember 2009, penerimaan zakat ini mencapai 10 milyar rupiah.

Dengan semakin meningkatnya penerimaan dana zakat ini apalagi jika Perda sudah disahkan, jumlah penduduk miskin akan berkurang dan masyarakat akan semakin sejahtera di Kota Padang. Namun, semua itu akan tercapai tetap kalau ada semangat kebersamaan terpelihara dalam diri kita masing-masing.

Oleh karena itu, masih dalam suasana Ramadhan ini, kami menghimbau seluruh masyarakat untuk membangun kebersamaan. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang bertaqwa. Amin.

 
Advertisement
counter