Kini Ada SPBU Solar Khusus Untuk Nelayan

PADANG—Selama ini salah satu kesulitan nelayan kurangnya ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) solar untuk melaut. Tapi kini mulai Rabu 19 Februari 2009 kesulitan itu  dapat diatasi. Dinas Kelautan Pemko Padang bekerja sama dengan Ditjen KP3K RI dan Pertamina telah mendirikan Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN) atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) khusus solar untuk para Nelayan di Kelurahan Pasie Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah.

Peresmian “Pom Bensin Khusus Nelayan” dihadiri Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil  (Ditjen KP3K) RI, Prof. DR. Ir. H. M. Samsul Maarif MEng, Wali Kota Padang Drs. H. Fauzi Bahar, MSi dan Manager Pemasaran BBM Industri dan Marine Region I Sumatera Pertamina


Pada peresmian tersebut, Dirjen KP3K menyebutkan,  pembangunan SPDN ini  dalam rangka memberdayakan ekonomi masyarakat pesisir pantai. Pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir ini dilakukan  sejak 2001-2008, melibatkan 292 dari 304 kabupaten/kota berpesisir di seluruh Indonesia.

Masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut sejak 2001-2005 sebanyak 667.475 jiwa dari sasaran 5.254.400 jiwa yang hidup di bawah garis kemiskinan dengan jumlah dana ekonomi produktif sebesar Rp 573.161.529.835 yang dikelola oleh 324 Koperasi LEP-PM3/Koperasi Perikanan melalui Lembaga Keuangan Mikro-nya (LKM).


Pembangunan SPDN di Indonesia telah dirintis sejak 2003. Tujuannya untuk menyediakan bahan bakar melaut, harganya relatif terjangkau dan tidak jauh beda dengan harga pasar di ibu kota atau harga eceran yang ditetapkan pemerintah, sebut Samsul Maarif. Kenaikan harga BBM sejak 2003 membuat masyarakat nelayan terpukul, karena BBM merupakan komponen utama yang sangat diperlukan bagi aktifitas masyarakat nelayan dan pembudidayaan ikan.

Komponen BBM, faktor produksi terbesar dalam usaha  menangkap ikan di laut yang mencapai 60% dari biaya produksi.  Sehingga ketersediaan BBM bersubsidi bagi nelayan akan menurunkan biaya pengeluaran untuk menangkap ikan secara signifikan. Untuk itulah DKP sejak 2003 meluncurkan program ini. Walikota Padang Fauzi Bahar mengingatkan kepada Pengurus Koperasi Nelayan Pasie Gurun, supaya mengelola SPDN ini secara maksimal agar dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan.


Wako  Fauzi Bahar, juga mengingatkan,  koperasi ini supaya membeli ikan-ikan hasil tangkapan nelayan ketika harga ikan murah, karena  selama ini ketika hasil tangkapan banyak, harga ikan menjadi murah dan nelayan menjadi rugi. Untuk mengangkat harga ikan, nelayan terpaksa membuang ikan ke laut. Ini tentu suatu perbuatan yang kurang baik. Oleh karena itu, koperasi diharapkan dapat membelinya.

Walikota juga mengingatkan, nelayan untuk dapat beralih menangkap ikan dengan menggunakan peralatan modern. Luasnya laut dan banyaknya ikan di dalamnya belum secara maksimal dikelola oleh nelayan kita karena peralatan yang masih tradisional. Kalau kita tidak mau beralih, maka selamanyalah kita tetap tradisional menangkap ikan. Ikan kita akan ditangkap oleh kapal-kapal asing yang tidak dapat kita larang.


Dalam kesempatan itu, wali kota Padang atas nama pemerintah dan masyarakat nelayan Kota Padang, khususnya nelayan di Kelurahan Pasie Nan Tigo menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Departemen Kelautan dan Perikanan serta PT Pertamina yang telah menetapkan daerah ini sebagai salah satu titik pembangunan SPDN di Kota Padang. Dan ke depan pembangunan SPDN ini tetap berlanjut di daerah pesisir lainnya di Kota Padang.

Dengan dioperasikannya SPDN ini, Wako mengajak seluruh nelayan Pasie Nan Tigo untuk memanfaatkan kehadirannya secara maksimal, karena begitu SPDN ini dioperasikan, maka perlakuan khusus bagi nelayan  membeli solar di SPBU dihentikan. Selain itu, Wako juga menghimbau agar seluruh komponen masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan SPDN ini. ***

 

 
Advertisement
counter