Mengembalikan Vitalitas Diri dari Berbagai Tekanan, Kesedihan dan Kegelisahan

 

Jum'at 7 Juni 2013-"Melihat suatu peristiwa dalam perjalanan hidup Rasulullah tidak terlepas dari sejarah kehidupan Muhammad bin Abdullah (Rasulullah) secara komprehensif. Sejarah perlu dilihat untuk meniilik hikmah suatu peristiwa.  Situasi tidak kondusif dapat menjadi lebih baik dengan kembali kemesjid, berdialog dengan Allah (sholat), dan kekuatan kebersamaan". Disampaikan Wakil Walikota H. Mahyeldi Ansharullah, SP pada sambutan peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad S.A.W di masjid Nurul Iman.

Isra’ Mi’raj terjadi saat tekanan dan ujian begitu hebat mendera dan menimpa Rasulullah. Mulai dari pengucilan/boikot yang dilakukan penduduk mekah terhadap kaum muslimin, sampai pada detik-detik kehilangan orang-orang yang telah menguatkan dan membela beliau sepanjang hidupnya, ialah kematian paman tercinta Abu Thalib bin Abdul Muthalib, sebagai bapak yang telah membesarkan dan menjaga beliau dari umur 8 tahun hingga dewasa. Abu Thalib walau tidak mampu mengucapkan kalimat tauhid, namun dengan segenap jiwa raganya membela keponakan tercinta dari tekanan bangsa Quraiys dan penduduk mekkah waktu itu.

Kemudian berpulangnya seorang wanita yang mendapat salam khusus dari Allah yaitu Istri tercinta beliau, Khadijah binti Khuwailid, wanita pertama yang beriman pada Allah dan Rasulnya, yang telah mengorbankan jiwa harta dan raga membela Rasulullah demi tegaknya kalimat tauhid Laa ila haillallah muhammadurrasulullah (tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Nabi/Rasul utusan Allah).  Khadijah sebelum wafatnya mengungkapkan pada Rasulullah, jika saja hartanya telah habis dan kaum muslimin membutuhkan jembatan, maka jika tulang belulangnya setelah dirinya wafat dapat digunakan sebagai bahan untuk jembatan bagi kaum muslimin, maka ambillah dan manfaatkan bagi islam tegaknya agama Allah. Inilah bukti pengorbanan seorang wanita mulia, yang kelak menjadi pemimpin utama wanita disorga.

Kematian dua orang tersebut menyebabkan himpitan dan tekanan musuh-musuh Rasulullah, semakin bertambah dan menjadi-jadi, sehingga menyebabkan beliau dan kaum muslimin berada dititik nadirnya.

Namun saat itulah campur tangan Allah langsung mengembalikan vitalitas beliau sebagai seorang Rasul dan kaum muslimin. Rasulullah diperjalankan Allah yang dipandu oleh Malaikat jibril dari masjidil haram ke masjidil Aqsa di Palestina. Dan kemudian perjalanan dilanjutkan melewati 6 (enam) lapis langit, dan bertemu langsung dengan Allah disidratil muntaha.

Mengapa dari masjid ke masjid?

Karena mesjid tempat terbaik yang dapat memberikan ketenangan jiwa dan batin (suasana hati). Dan pada situasi yang penuh tekanan menjadi lebih baik dengan kekuatan iman yang bertambah setelah bertemu langsung dan berdialog dengan Allah di sidratil muntaha.

Pun dalam perjalanan, Rasulullah bertemu dengan para Nabi dan Rasul sebelumnya. Bertemu teman sejawat yang telah lebih dahulu melewati berbagai cobaan dan berpengalaman mengemban risalah. Terjadi komunikasi yang mampu memberikan rasa kekuatan kebersamaan.

Dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sebagai manusia biasa yang tidak lepas dari berbagai kesusahan, takanan, kegelisahan hidup agar cara efektif mengambalikan kekuatan dan vitalitas diri adalah kembali pada Allah. Tempat terbaik untuk itu adalah masjid, dan lakukan dialog dengan Allah melalui sholat dan doa yang khusyuk. Jangan lupa lakukan komunikasi dengan sahabat baik yang tepat dan memahami persoalan yang kita hadapi.  sehingga kita bisa menghalau tekanan yang ada dan mengembalikan vitalitas diri.

Page 1 of 115

Free business joomla templates