HJ. RAUDHAH THAIB JURI KELURAHAN PENGIMPLENTASI ABS SBK

  • 17 Oktober 2017
  • Wan Rais
  • 33 Kali Dilihat
  • HJ.  RAUDHAH THAIB JURI KELURAHAN PENGIMPLENTASI ABS SBK

    Robongan Juri Kelurahan Pengimplemetasi ABS SBK di Parak Laweh Pulau Aia Na XX, Selasa (17/20) Irwandi rais

    Butuh Kesepakatan Bersama Menata Marawa

     

     

     

     

     

    Padang-Di Kota Padang enam kelurahan yang masuk nominasi penilaian Kelurahan Pengimplementasi Adat Basandi Syara' Syara' Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Empat kelurahan telah dilakukan penilaian oleh Tim Penilai Pemko Padang yang diketuai Jamilus, S.Ag yang juga Kabag Kesra Pemko Padang. Empat Kelurahan tersebut, Gunuang Sarik di Kecamatan  Kuranji, Balai Gadang di Kecamatan  Koto Tangah, Limau Manih Selatan di Kecamatan Pauh dan Parak Laweh Pulau Aia Nan XX, di Kecamatan Lubeg, Selasa (17/10).

              Ketua Tim Penilai Kelurahan Pengimplementasi ABS-SBK Jamilus menyampaikan, yang dilihat langsung kelapangan itu, untuk membuktikan apa-apa yang disampaikan Lurah dalam eksposnya beberapa hari lalu. Jadi tidaklah bersulit-sulit, punya sasaran Seni Silat, lalu dilihat dan bagaimana aktifitasnya. Diantara dari kunjungan, telah menampilkan berbagai aktivitas seni dan budaya Minang.

              Sedangkan Juri bidang Adat Prof.Dr.Hj.Puti Reno Raudhah Thaib, MS.i  yang juga Ketua Bundo Kanduang Sumatera Barat mengajak menata dan memperbaiki hal-hal yang tampak secara bersama dan butuh kesepakatan. Kemudian  penilaian penerapan ABS-SBK patut di syukuri bagi warga Kota Padang, sebab yang pertama kali mengadakan kegiatan ini adalah  Kota Padang. Salud dengan Kabag Kesra dan Walikota Padang, semestinya dari luak Nantuo terlebih dahulu, jadi bantuak tabu lah manih ka ujuang. Harus  sungguh-sungguh mengaplikasikan di kampung awak, ABS-SBK ini. Maka nanti yang kelurahan menang, seluruh nagari-nagari dari Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat akan merujuk ke  salah satu Kelurahan yang jadi pemenangnya. Ini tantangan bagi kelurahan yang menang nantinya.

              Setelah itu, kini ada islam budaya, tapi di Minang budaya yang diislamkan, mana yang tidak sesuai dengan islam itu dicoret/diedit, jadi  Adat Basandi Syara' Syara' Basandi Kitabullah, syara' mangato, adat mamakai alam takambang jadi guru, harus diimplmentasikan contohnya pengajian di surau, jangan syara' mangato sajo yang disampaikan. Adat mamakai itu bagaimana, ada kelompok, bersuku-suku, hormat menghormati  tapi adatnya bagaimana  pula. Perempuan ada auratnya yang dilarang, adatnya bagaimana pula. Tapi kini yang terjadi tidak dilanjutkan dan tidak dijelaskan.Ini masalahnya, sebut Raudhah Thaib.

              Selanjutnya, sebut   Puti Reno Raudhah Thaib pemakaian atribut, contoh  yang tampak  saja, baju penghulu hitam warnanya, karena kulit sipenghulu itu hitam, lalu dipakai baju hitam yang semakin hitam. Kemudian ditukar seenaknya saja  dengan warna baju merah agar mentreng dilihat orang, tapi tidak jadi penghulu lagi, jadi dubalang. Begitu penting simbol di Ranah Minang, tidak bisa sembarangan menukar, semua ada maknanya. Ada acuannya.

                Puti Reno Raudhah Thaib yang juga ketua Bundo Kanduang Sumatera Barat juga mengamati yang terjadi saat ini, di seluruh nagari di di Ranah Minang, tentang Marawa, belum ada kesepakatan hingga kini. Ada warna merah di tengah, dan Kuning ditengah, ini perlu disepakati bersama. Bahkan ada juga yang mengatakan Marawa adalah bendera Luak. Kalau di Tanahdatar, Hitam, Merah, Kuning. Di Agam,  Hitam, Kuning, Merah. Di Payakumbuh tidak ada hitam di luar, ini tidak logis.

              Andaikan Marawa itu bendera Luak, lalu Rantau apa warna benderanya, pasaman dan lain sebagainya.  Jadi Marawa bukan bendera Luak, tapi bendera Minangkabau. Ini yang perlu kesepakatan bersama dengan niniak Mamak dan lain sebagainya. Setelah itu, istilah niniak mamak, cadiak pandai, Alim ulama, tidak ada keberadaan perempuan. Apakah tidak ada perempuan yang pintar dan cerdas,  dan alim, ini yang perlu pula dikoreksi kembali bersama-sama. Niniak itu perempuan (padusi), ada niniak baru ada mamak. Kalau berbicara limbago kaum yang paling kecil dibawah sekali, tiga unsurnya, niniak/mande soko/Bundo soko, setelah itu mamak, dan kemenakan. Kesimpulannya memang banyak yang perlu ditata atau diperbaiki kembali secara bersama sama.   Semua ini telah disampaikan pada kunjungan lapangan kelurahan pengimplementasi ABS-SBk di Kota Padang.# Irwandi Rais

    Admin :
    Wan Rais